Opening Ceremony

 Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI Gelombang 30


Sabtu malam di pertengahan bulan Oktober, penulis menghadiri pertemuan online via aplikasi Zoom. Pertemuan tersebut merupakan tanda bahwa kelas belajar menulis yang akan penulis ikuti segera dimulai beberapa hari lagi. Dengan menggunakan ponsel dengan wifi yang terkadang putus nyambung, ditambah sinyal ponsel yang hilang timbulkarena kantor baru penulis berada jauh dari pusat kota ditambah cuaca buruk. Penulis tetap nekat masuk ke Zoom meeting. Diluar hujan deras pikir penulis saat itu. Penulis yang baru menyelesaikan shift kerja akan basah kuyup jika nekat ke parkiran ditengah hujan dan petir yang menyambar.

Acara dimulai dengan pembukaan oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan beberapa sambutan. Diantara beberapa narasumber ada sebagian yang materinya masih penulis ingat. Diantaranya adalah Pak Catur, beliau menjelaskan sebelum menulis alangkah baiknya kita memahami tujuan dari tulisan kita. Semoga saja tulisan kita bertujuan untuk hal-hal yang bersifat positif. Menurut beliau tulisan itu merupakan sesuatu yang mengagumkan, karena dapat menjadi tempat dimana gagasan dapat dituangkan. Selain itu isi pikiran kita dapat ditransfer ke banyak orang. Menulis merupakan pembuktian dari kekuatan intelektual ucap beliau. Banyak peristiwa-peristiwa besar yang diawali dari gagasan yang dituangkan dalam bentuk tulisan. 

Pada jaman dahulu, sebelum Indonesia merdeka. Para pahlawan banyak membuat tulisan yang menggugah semangat juang rakyat. Bahkan Founding Father kita juga melakukan hal yang sama, sehingga secara tidak langsung menulis ini menjadi alat juang yang membuat negara kira bisa merdeka. Selain itu, beliau juga memaparkan bahwa menulis mampu menjadi terapi karena banyak pikiran tersumbat yang dapat tersalurkan dengan baik. Dan kelas belajar menulis inilah yang akan menjadi pemantik banyak orang untuk bersemangat dalam menulis.
 
Sambutan berikutnya diberikan oleh Om Jay, Founder Kelas Belajar Menulis PGRI. Menurut Om Jay, mahkota penulis adalah sebuah buku. Tulislah buku sebelum ajal menjemput, ucap beliau. Buku merupakan salah satu warisan terbaik untuk anak cucu. Untuk mencapai keberhasilan menulis diperlukan gotong royong, akan sulit jika kita hanya berusaha sendiri. menurut beliau, menulis itu mudah asalkan mau mendengarkan arahan dan praktik. Sedangkan bagian tersulit dari menulis adalah memulai menulis tersebut.

Menutut Om Jay pada sebuah tulisan minimal mencakup tiga alinea yaitu membuka, isi dan penutup yang diisi dengan kalimat yang berkesan. Idealnya untuk tahapan pada manusia diawali dengan membaca, menulis baru berbicara. Jika langkah tersebut terbalik dan diiringi dengan literasi yang rendah, akan banyak muncul orang-orang yang bicara tanpa berdasarkan kelimuan. 
 
Tak terasa  waktu terus berjalan, panitia yang merupakan bagian dari Tim Solid Om Jay menjelaskan bahwa dalam pelatihan ini, setiap peserta wajib membuat resume materi pada setiap pertemuan dengan mengisi form resume yang telah disediakan. Dilanjutkan dengan membagikannya ke grup. Pelatihan akan diakhiri dengan masing-masing peserta menyusun buku solo minimal 80 halaman A5. Panitia juga menyarankan peserta untuk aktif bertanya, sehingga dapat mendukung kelancaran program ini.
 

Tidak semua narasumber, mampu penulis ingat pemaparannya, penulis benar-benar meminta maaf atas keterbatasan tersebut. Sehingga banyak sekali pemaparan yang sebenarnya bagus, tapi tidak bisa sama-sama kita nikmati disini. Penulis juga menerima kritik dan saran apabila terdapat tulisan penulis yang tidak berkenan dihati pembaca. Sampai jumpa ditulisan berikutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Deru Hati Para Mujahid

Kehilangan Kendali Atas Diri Sendiri

Bertahanlah Sedikit Lagi