Kehilangan Kendali Atas Diri Sendiri
Penulis baru menyadari normalnya ponsel pintar adalah membantu kita memperoleh informasi dan mengontak orang lain. Bukan mengendalikan kita untuk makan dicafe yang baru buka, membeli pakaian yang sedang tren, atau mengharuskan kita berfoto-foto ditempat yang estetik, seakan-akan jika kita tidak mengikuti arus itu kita tidak akan bisa melanjutkan hidup lagi.
Pada awal tahun 2020, munculah istilah baru yang disebut Fear of Missing Out (FOMO) yaitu rasa takut merasa tertinggal karena tidak mengikuti aktifitas tertentu. Jika terus-terusan tidak terkendali, perasaan ini tentu berpengaruh terhadap finansial seseorang. Karena terus menerus mengikuti tren tentu mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
Meninggalkan media sosial tentu bukan solusi yang tepat, dimana media sosial merupakan tempat dimana kita berbagi kabar dengan teman-teman yang jarang kita jumpai. Lagipula tidak sepenuhnya berselancar didunia maya merupakan sesuatu yang negatif.
Penulis sendiri tentu juga mengalami masa-masa sulit untuk mengendalikan diri, terutama ketika Tiktok Shop masih ada. Kita disuguhkan oleh live streaming dengan harga penjualan yang sangat murah, ditambah voucher ongkos kirim yang terus bertebaran. Tanpa sadar membuat penulis terus menerus membeli barang baru yang sebenarnya tidak diperlukan.
Pengendalian diri merupakan keahlian yang perlu terus dilatih, sama seperti iman seseorang yang terkadang naik turun. Selain diperlukan usaha yang keras dari dalam diri sendiri, perlu ada charge energi dari luar diri kita yang membantu untuk tetap konsisten.
Baru-baru ini penulis melihat wawancara beberapa tokoh terkenal, ada artis Prilly Latuconsina yang memilih untuk tidak mengikuti arisan apapun supaya tidak ikut-ikutan membeli barang bermerk yang terbaru. Ada pula Zaskia Adya Mecca yang memilih untuk mengikuti pola hidup minimalis ala Marie Kondo. Ada pula beberapa teman penulis yang mengeluh uang gaji selalu habis di minggu pertama sejak pindah ke kantor yang kebanyakan anak mudanya selalu update terhadap tren kekinian.
Beberapa kisah diatas membuat penulis terpikir pentingnya memilih circle pertemanan. Ketika disekeliling kita memakai barang yang sedang tren, tanpa sengaja kita juga akan terpikir untuk membeli barang tersebut. Bukannya tidak boleh mengikuti tren sama sekali, hanya lebih selektif saja. Untuk pembaca sendiri apakah memiliki tips yang efektif untuk mengendalikan diri? Penulis akan dengan senang hati menampung berbagai saran dari pembaca.

Komentar
Posting Komentar