Benarkah El Nino Telah Berlalu ?
Sumber:beritasatu.com
Beberapa bulan terakhir, El Nino tiba-tiba menjadi kata yang begitu populer. Fenomena pemanasan suhu muka laut yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah ini menjadi topik percakapan yang lazim dibicarakan. Penulis sendiri beberapa kali secara tidak sengaja mendengar anak-anak sekolah maupun para penjaja makanan membicarakan hal ini. Fenomena El Nino ini memang memberikan dampak yang sangat signifikan dari kemarau panjang, kekurangan air bersih, serta kebakaran lahan. Hal ini tentu juga berpengaruh terhadap pendapatan banyak orang.
Penulis yang tinggal dipulau yang dilalui khatulistiwa tentu telah terbiasa dengan hawa yang tidak begitu sejuk. Tetapi setelah kemarau panjang ini muncul, suhu terasa beberapa kali lipat panasnya. Bahkan alat pengatur suhu seperti tidak begitu akurat. Tertulis diponsel pintar 34 derajat terasa seperti 38 derajat. Membuat penulis kebingungan sendiri harus percaya dengan angka 34 atau 38. Di tempat tinggal penulis, dampak lain yang sering dirasakan adalah kabut asap yang berlebihan akibat terbakarnya lahan. Asap pekat selama berhari-hari kami rasakan, bahkan sampai membuat penulis terbatuk-batuk dan sesak nafas setelah lari pagi. Hingga terhitung sejak 22 Mei 2023, status siaga darurat bencana karhutla dan kekeringan telah ditetapkan.
Teman-teman penulis juga mengeluh tagihan listrik yang membengkak karena air conditioner terus menerus menyala dalam kondisi paling dingin. Penulis sendiri sampai menggunakan tiga kipas angin untuk satu kamar karena tidak tahan dengan hawa panas. Beberapa bulan setelah fenomena ini tak kunjung usai, semua orang mulai resah, ada beberapa komunitas yang melakukan sholat Istisqa untuk meminta hujan.
Kabar dari BMKG menjadi berita yang paling ditunggu-tunggu, hingga prediksi mengenai puncak El Nino yang terjadi pada Juli-Agustus-September-Oktober diumukan. Masyarakat mulai lega, setidaknya tidak sampai akhir tahun. Begitu harapan banyak orang. Pada bulan Oktober perlahan hujan mulai muncul. Ditempat tinggal penulis sendiri, dalam dua minggu terakhir hampir setiap sore hujan terus turun. Hawa panas mulai berkurang, tetapi disiang hari masih terasa pengap. Setidaknya kamar penulis yang dihiasi kipas kipas berkurang menjadi dua kipas disiang hari. Kabut asap juga telah jauh berkurang, air dari PDAM mulai lancar lagi.
Kemarau panjang menyisakan banyak trauma, hingga perlu dipikirkan apa saja yang perlu dilakukan agar meminimalisir dampak dari tragedi ini jika suatu saat terulang kembali. El Nino sendiri merupakan fenomena alam murni, sama sekali tidak berkaitan dengan isu perubahan iklim. Tetapi kehadirannya bisa diprediksi sebelumnya, tidak tiba-tiba terjadi begitu saja.
Enam bulan berlalu, hujan mulai turun. Besar harapan kami mengira El Nino ini telah berakhir. Tetapi dikutip dari Kompas.id Kepala Stasiun Klimatologi Kelas 1 Kalimantan Selatan menyampaikan bahwa berdasarkan indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO), El Nino diprediksi terus bertahan hingga Desember 2023 atau bahkan hingga Januari-Februari 2024. Nampaknya kita harus bersabar lebih lama lagi, sambil terus bersyukur karena sesekali telah turun hujan.

Komentar
Posting Komentar